Tampilkan postingan dengan label pemikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemikiran. Tampilkan semua postingan

Rabu, Agustus 06, 2008

Empty

Aku hanyalah buih kecil dalam hamparan laut luas
Aku hanyalah bunga rumput yang menantang angin lalu terhempas lepas
Aku hanyalah bukan sesuatu apapun

Aku tiada
Aku hampa
Aku kosong

Aku hanya ingin berlari
Walau tersungkur ku kan berdiri kembali
Lalu ku berlari
Dan ku tak peduli
Halang rintang ku hadapi
Dan ku makin tak peduli

Senin, April 07, 2008

Perbedaan

Lebih mudah saling berkonfrontasi karena perbedaan daripada saling menyadari perbedaan ada dan saling mengalah. Lebih mudah bagiku untuk mendebat dan mempertahankan pendapat daripada mengalah dan menerima pendapat orang lain.


Betapa besar ego manusia. Betapa besar egoku. Bahkan kata "mengalah", yang menunjukkan kerendahan hati, pun diberi embel-embel "untuk menang" atau "bukan berarti kalah" yang menunjukkan betapa besar ego kita sebagai manusia.

Dari ego itulah muncul perbedaan. Egoisme menyebabkan kita ingin berbeda dari orang lain. Dan ketika perbedaan itu menimbulkan gesekan atau friksi (bahasanya!) dengan orang lain, muncullah pilihan: konfrontasi atau mengalah demi menghormati perbedaan.

Pilihan paling mudah adalah melakukan konfrontasi. Pilihan ini mudah karena tidak perlu rasa toleransi, pengertian, atau saling memahami. Kita tidak perlu buang tenaga untuk saling memahami, saling mengerti atau saling tolenransi. Bahkan kita tidak perlu mengenal orang yang akan berkonfrontasi dengan kita.

Padahal hidup kita dipenuhi dengan perbedaan. Padahal dalam hidup kita tidak selalu dipenuhi dengan orang-orang yang kita inginkan. Dan semua dalam hidup kita tidak selalu sesua dengan apa yang kita inginkan. Bagaimana kita bisa hidup dalam perbedaan sementara kita tidak dapat menerima perbedaan? Akankah selamanya kita hidup dalam imajinasi kita tentang dunia yang kita pikirkan? Akankah kita mengonfrontasi setiap hal yang tidak sesuai dengan pemikiran kita?

Perubahan

Semua mengalami perubahan. Tidak ada yang abadi. Yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Masalahnya, perubahan selalu menuju ke dua arah: lebih baik atau lebih buruk.


Setiap perubahan, baik itu menjadi lebih baik atau buruk, memerlukan adaptasi oleh objek dari perubahan. Baik atau buruk, yang menentukan keberhasilan objek dalam menghadapi perubahan adalah kecepatan beradaptasi.

Adaptasi bukan berarti mengikuti kemana arus mengalir, namun lebih pada penyesuaian diri terhadap arus tanpa harus ikut hanyut dalam arus.

Mengapa ikan berenang melawan arus? Karena ia masih hidup. Seandainya ia sudah mati, tentu ia akan hanyut mengikuti arus sungai.

Ia melawan arus sebagai bentuk penyesuaian diri. Seandainya ia berenang mengikuti arus dan hanyut dalam arus, maka tak lama dia akan mati karena kesulitan mencari makan. Ia akan "mengejar" makanannya karena ia berenang searah dengan makanannya. Jika ia berenang melawan arus, maka makanannya akan datang dengan sendirinya, terbawa arus.

Begitu pula dengan diri kita. Kita tidak perlu kehilangan jati diri kita ketika menghadapi perubahan dengan menghanyut dalam arus perubahan. Yang penting adalah menyesuaikan arah perubahan dengan berpegang pada prinsip-prinsip yang kita miliki. Entah itu idealisme, agama, orang tua, atau kepercayaan.

Sekali lagi, perubahan hanya dapat menimbulkan dua dampak: baik atau buruk. Perubahan dengan dampak terburuk pun dapat menghasilkan kebaikan apabila kita dapat dengan benar dan tepat menyesuaikan diri. Apalagi perubahan yang berdampak baik.

Menurut Darwin dalam "The Origin of the Species" (padahal baru baca pendahuluannya, abis gitu mangkrak, pusing!) "Yang mampu bertahan bukanlah yang memiliki badan terkuat atau taring terpanjang. Namun, yang mampu bertahan adalah mereka yang paling bisa menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan sekitar." Ungkapan ini lebih dikenal dengan teori "The Struggle of the Fittest". Yang mampu beradaptasi dengan baiklah yang bertahan.