Senin, Januari 19, 2009

Di Ujung Jalan Itu

Di ujung jalan itu
terempas lembut
setitik janji
yang kita ucapkan dahulu

Dan di ujung jalan itu pula
kau hadirkan senyum
pun tawa dalam hati
bersama kita bercanda ria

Namun di ujung jalan itu juga
ku hadirkan sepi padamu
serentak bersama
derap inginku

Mungkin cintaku undang sepi
mungkin pula rinduku beri perih
atau mungkin sayangku sebilah pedih

Entah mengapa
kita masih saling bertahan
untuk satu alasan,
untuk satu tujuan

cinta ini inginku tak berkata
sayang ini inginku tak berbayang

Mungkin nanti di ujung jalan itu
kita saling mengucapkan
selamat tinggal

Kamis, Desember 04, 2008

Akhir Perjalanan Tahun 2008; Bagian Pertama.

Awal Desember, 2008.

Rencananya mau nulis semacam review, ditulis bersambung. Sebagai bahan renungan dan pelajaran buat masa depan. Ini adalah bagian pertama dari beberapa bagian review, moga-moga gak terlalu panjang.

Tahun yang paling sibuk, melelahkan sekaligus membanggakan, bertabur peluh dan cucuran air mata, penuh dengan cinta dan segala perniknya, penuh dengan pengalaman-pengalaman berharga, pengalaman-pengalaman baru, apapun itu, yang pasti tahun ini akan segera berakhir. Yang aku tahu, tahun ini sangat berkesan bagiku.

Ku mulai dari awal tahun. Tepat pada tahun baru 2008, 1 Januari 2008, selepas Maghrib menjelang Isya', adikku, (alm.)Aulia Mega Hutama, meninggal dunia karena kecelakaan diusianya yang masih 14 tahun. Waktu kejadian sekitar pukul 2.30 sampai 3.00 dini hari. Waktu itu Mega sedang dalam perjalanan pulang dari perayaan tahun baru. Lokasi kejadiannya setelah Bundaran Aloha dari arah Surabaya menuju ke Sidoarjo.

Musibah (kebanyakan orang mengatakan ini sebagai musibah) ini membuat keluarga kami shock, terutama Ayah dan Ibu. Ayah yang membutuhkan waktu paling lama untuk mengikhlaskan (alm.)dek Mega. Karena memang Ayah sangat sayang dan menaruh banyak harapan pada (alm.)dek Mega. Sedangkan aku, anak satu-satunya yang "tersisa" (kami 3 bersaudara, aku anak tertua, adik perempuanku, Bintang, berada di Jogja diasuh oleh Paman, (alm.)dek Mega adik terahir), malah harus jauh dari kedua Orang Tua karena kuliah dan bekerja di Surabaya.

Justru karena meninggalnya dek Mega, dek Bintang diberi tahu bahwa sebenarnya dia juga anak kandung Ayah-Ibuku, yang dengan kata lain dia juga adalah saudara kandung (alm.)dek Mega. Ada begitu banyak penyesalan yang terpancar dari Ayah-Ibuku dan Tanteku yang waktu itu mengantar dek Bintang dari Jogja. Ada lebih banyak lagi kekecewaan yang tergambar dari wajah dek Bintang. Dan aku hanya bisa menyaksikan dalam kehampaan...

Sejak saat itu semuanya sangat berbeda. Jauh, jauh sangat berbeda. Pulang ke Sidoarjo adalah keharusan setiap satu minggu sekali. Waktu itu aku masih menganggapnya sebagai sebuah beban, karena walaupun di hari Minggu aku masih ada beberapa keperluan di Surabaya.

Tak lama setelah meninggalnya dek Mega, dek Bintang mengirimkan e-mail berisikan sepenggal ungkapan kekecewaannya dan perasaannya terhadap dek Mega serta lampiran foto-foto dek Mega waktu main keyboard (dek Mega pemain keyboard tunggal. Selain itu dia juga aktif dibeberapa band). Dek Bintang mengatakan bahwa sebelumnya dia merasa kalau dek Mega adalah adik kandungnya dan ingin menyayanginya seperti adiknya sendiri.

Itulah kejadian pertama di awal tahun (benar-benar awal tahun!) yang mengubah diriku yang dulu jadi diriku yang sekarang. Setidaknya ada sisi positif dari kejadian itu: Nova, pacarku yang waktu itu baru jadian sekitar seminggu lebih beberapa hari, berani ngomong "Aku sayang kamu" untukku. Dan waktu itu dia mengaku bahwa itu adalah yang pertama baginya mengatakan "Aku sayang kamu" untuk seorang cowok.

Perjalanan tahun 2008 masih panjang. Review dan renungan 2008 akan berlanjut ke bagian kedua dari entah berapa bagian yang tertuang di blog ini..

CU.

Rabu, Agustus 20, 2008

......... (Hanya Bisa Terdiam)

Aku berjalan, aku berlari
Aku terjatuh, aku merangkak
Aku terduduk, aku terdiam

Aku tidak meratapi, aku tidak menghindari
Aku tidak menyesali

Ku kan selalu berusaha berdiri
Setelah jatuhku
Ku kan selalu berusaha berlari
Setelah berdiriku

"Dan aku semakin tidak peduli"1

Karena aku tidak mau peduli
Pada masa lalu yang ku kubur dalam hati
Kadang datang menghampiri
Sekali dua kali

Aku hanya ingin berlari

---
1 : Dikutip dari puisi Chairil Anwar, Semangat.

Rabu, Agustus 06, 2008

Empty

Aku hanyalah buih kecil dalam hamparan laut luas
Aku hanyalah bunga rumput yang menantang angin lalu terhempas lepas
Aku hanyalah bukan sesuatu apapun

Aku tiada
Aku hampa
Aku kosong

Aku hanya ingin berlari
Walau tersungkur ku kan berdiri kembali
Lalu ku berlari
Dan ku tak peduli
Halang rintang ku hadapi
Dan ku makin tak peduli

Senin, Juni 09, 2008

Lorenzo Trauma?


Laguna Seca, sirkuit terahir (sementara) yang menjadi tempat terjatuhnya Lorenzo, memang dikenal dengan sirkuit yang berbahaya. Perlu diketahui, tidak hanya MotoGP yang mengadakan balapan di Laguna Seca. Sirkuit milik Mazda ini selain MotoGP juga menyelenggarakan Monterey Festifal of Speed, Corona AMA Supterbike, Monterey Sports Car Championship, dan Rolex Monterey Historic Automobile Races.

Tapi aku mengenal karakter sirkuit yang unik ini dari game Grand Turismo di PSOne (hehe,, konsol gamenya katrok ya??). Sirkuit ini awalnya adalah sirkuit yang paling aku benci. Tikungan2 cepat yang tricky, tikungan patah yang sangat lambat, chicane mematikan (njulungup), tanjakan serta turunan yang drastis, bikin pusing menentukan settingan mobil. soalnya butuh downforce (ghuaya!) yang cukup besar selain tenaga yang mumpuni untuk akselerasi. Benar2 sirkuit yang sulit ditaklukkan. Disatu sisi mengalir cepat, disisi lain meliuk2 dan lambat. Satu tikungan yang berbahaya adalah sebuah chicane bernama "Crockscrew". Setelah melewati tikungan ke-6, pembalap akan menanjak di "Rahal Straight". Kemudian menikung sedikit ke kanan sambil ngerem penuh, langsung banting setir ke kiri. Tapi gak cuma ke kiri, tapi juga ke "bawah". Crockscrew adalah tikungan S kecil (chicane) yang berupa turunan curam. Nikung bentar ke kiri langsung banting lagi ke kanan sambil nyosop mengikuti turunan.

Pertama kali "balapan" di Laguna Seca, aku langsung menghantam bagian kanan lintasan karena kehilangan kontrol, baik itu kontrol traksi sampai control panel (loh?). Telat ngerem, kurang downforce, dan yang pasti terlalu nafsu! hahaha... Bukan tipe pembalap yang bijaksana!

Tapi Lorenzo jatuh bukan di Crockscrew, melainkan di tikungan ke-4 yang memang merupakan tikungan cepat. Dalam kecelakaan ini, dua tulang metatarsalnya, yaitu tulang ke-3 dan ke-5, patah. Mengakibatkan dia harus istirahat total dan harus cepet-cepet sembuh kalo pengen balapan di Brno.

Yang jadi masalah bukan pada pemulihan kondisi fisik Lorenzo. Kita tahu sendiri kalo dokter-dokter MotoGP emang udah ahli dan terbiasa dengan kondisi cidera seperti yang dialami Lorenzo. Buktinya waktu terjatuh hebat di Shanghai, Lorenzo masih bisa memaksakan diri ikut balapan walau kedua kakinya cidera. Masalahnya ada pada mental Lorenzo. Dua kali kecelakaan besar memang belum cukup untuk membuat Lorenzo trauma. Buktinya dia tetap ngebut dan akhirnya jatuh untuk yang kali ke-3.

Setelah tiga kali jatuh, Lorenzo mulai mengatakan bahwa dia mulai takut mengendarai motor. Dia mulai kehilangan kepercayaan dirinya. Wah, lampu kuning nih.

"Secara normal, saya tak takut pada kecelakaan dan cedera. Tapi, saya sekarang berada pada masa krisis. Saya sedang menjalani fase menghilangkan ketakutan itu," kata Lorenzo seperti yang dikutip Jawapos kemarin (31 Juli 2008).

Lorenzo bertekad bahwa dia harus kembali kepada kepercayaan dirinya seperti yang dia miliki diawal musim. "Saya berupaya keras untuk kembali. Saya juga mencoba untuk mengendarai motor lebih aman. Saya kira, buah dari upaya tersebut segera dapat dilihat oleh semua orang," lanjutnya.

Yah,, semoga Lorenzo benar-benar kembali ke performa terbaiknya, walaupun tidak untuk musim ini. Paling tidak belajar dari Juara Dunia 2007, Casey Stoner, dimana Stoner hobi jatuh dimusim pertamanya (2006). Tapi langsung juara dunia di musim keduanya.

Safety Riding, Lorenzo!!!

sumber:

  1. jawapos.com

  2. laguna-seca.com

  3. wikipedia.com